Tags

, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Saya sadar sekarang saya sudah besar. Saya juga sadar saya sudah bukan anak ingusan lagi yang setiap saat selalu dengerin lagu anak-anak di televisi, dan setiap hari selalu dipenuhi dengan tayangan musik anak-anak yang berkualitas dalam negeri. Yap, saya lahir di tahun 90’an, jadi saya tau banget gimana serunya masa kecil saya waktu itu. :D

Masih inget lagunya Cindy Cenora yang judulnya “Aku Cinta Rupiah” atau “Krisis Moneter”? Itu lagu dirilis waktu saya masih SD, pas banget lagi jamannya baru krisis moneter. :D Lagunya enak didenger dan liriknya pun pendek dan gampang banget di cerna sama anak kecil kayak saya pada jamannya waktu itu. :D
Atau lagunya Sherina yang “Kembali Ke Sekolah”. Jujur saya kagum banget ama penyanyi cilik yang satu ini. Masih kecil, tapi suaranya kereeeeeen banget sumpah! Dia bahkan jadi my favorit child singer. :D

Masih ada lagi lagu-lagu anak kecil yang lain, kayak lagu Melisa judulnya “Abang Tukang Bakso”, yang baksonya cuma 500 perak, tapi sekarang jadi 5000 perak :mrgreen:, “Semut-semut Kecil”, dan “Si Komo” biangnya macet. Jadi kalo jalanan lagi macet, berarti si komo lagi lewat. hihihihi :lol:
Ada juga lagunya Enno Lerian judulnya “Du Di Dam”, Meisy “Idola Cilik”, Agnes Monica “Bala-bala”, Sherina “Kembali Ke Sekolah”, Chikita Meidy, Tasya Kamila, sampai Trio Kwek-Kwek.
Begitu sederhananya alunan dan lirik lagu anak kecil jaman dulu yang sempat trend dan bahkan liriknya sampai melekat di kepala hingga sekarang, tapi harus punah karena perkembangan jaman yang kini lebih dominan di isi oleh lagu-lagu orang dewasa. :( Sungguh miris sekali melihat realita musik anak Indonesia saat ini, benar-benar sudah kehilangan nyawa. :(

Saya sempat lihat tayangan di salah satu acara talk show di televisi swasta, yang membahas tentang lagu anak-anak jaman sekarang. Banyak sekali yang menyayangkan kenapa harus “punah” dan “tak bernyawa” lagi. Padahal apa yang salah di lagu anak-anak? Lagu-lagu tersebut malah membuat anak-anak belajar tentang apa yang mereka lihat, mereka rasakan, dan mereka dengar. Mereka sebenarnya belajar dari situ. Contoh kecil aja ya, lagunya Trio Kwek-kwek yang judulnya “Katanya”, judulnya sederhana tapi lirik lagunya sangat berisi sekali. Australia negeri wol, aborigin sukunya, bumerang senjatanya, kangguru binatangnya…
Lihat kan? Kita bukan hanya diajak bernyanyi, tapi juga sekaligus belajar dari lagu itu. Otak anak kecil yang masih segar, bisa dengan mudah sekali menyerap lirik lagunya, sehingga mereka bisa dengan cepat belajar dari lagu tersebut. Bagus yah. :)

Nah, sebenarnya yang salah siapa ya? Si pembuat musik atau si penikmat musiknya? karena yang jelas sekarang, pangsa pasar musik anak-anak di Indonesia sudah sangat redup bahkan hampir mati. lihat aja realita nya sekarang, anak-anak dibawah umur aja sudah hapal lagu-lagu nya ST12, Radja, Armada, Seventeen, D’Masiv, yang booming dan lirik-liriknya sangat mudah sekali di hapal dan di ingat anak-anak. bahkan saya kadang suka melongo kalau ketemu dan lihat anak-anak usia dibawah 5 tahun tapi sudah sangat fasih nyanyiin lagunya Ungu. maksudnya hapal lagunya, tapi nyanyinya ya khas gaya anak kecil yang masih unyu-unyu gitu deh. :mrgreen:

Oya, saya inget waktu itu juga pernah ada acara ajang idola anak-anak yang mencari bakat penyanyi anak kecil yang akan jadi idola di salah satu televisi swasta. Bagus sih ya, tapi kebagusannya tiba-tiba jadi luntur ketika tau bahwa lagu-lagu yang dinyanyikan adalah lagu-lagu orang dewasa yang sudah diaransemen dan diganti sedikit liriknya. Sedikit, tapi gak mengubah musik dan lirik secara keseluruhan. Kenapa harus begitu? :o Kenapa lagu-lagu yang di usung bukan lagu-lagu anak jaman dulu ya? Kan banyak tuh lagu-lagunya, bagus-bagus dan berkualitas pula. :) Lagi-lagi hal tersebut sangat disayangkan sekali. Kalau pak SBY tau, mungkin beliau akan angkat bicara dan berseru, “Saya sangat prihatin”. :)

Faktanya sekarang musik anak Indonesia sudah bener-bener “tak bernyawa”. Masyarakat lebih cenderung melihat dan lebih memilih yang dipilih “lebih banyak” (musik orang dewasa), ketimbang yang mereka anggap sudah “gak jaman” (kuno). padahal pemikiran seperti itu salah. Disini saya hanya menegaskan ya, jaman memang sudah berubah, tapi gak ada salahnya perubahan itu didasari juga dengan pangsa pasar yang sesuai dengan segmen-segmen nya. Lagu orang dewasa untuk yang sudah dewasa dan lagu anak-anak untuk anak-anak. Adil kan? ;)

Tapi kenyataannya gak kayak gitu sekarang. Anak kecil ngeliat orang dewasa nyanyi, ikut-ikutan, eh jadi hapal. Dan bahkan orang dewasa ngeliatnya lucu, unik, dan malah jadi suatu kebanggaan tersendiri. Itu salah. Karena itu gak mendidik. :o Mereka memang asik menyanyikan lagu-lagu orang dewasa, tapi mereka sendiri belum mengerti apa arti dari lirik yang mereka nyanyikan, sehingga ketika mereka tahu, mereka akan jadi lebih cepat dewasa dari umur mereka yang sebenarnya. Miris kan? :o Saya jadi ikut-ikutan pak SBY deh, ikut prihatin. :)

Oya, saat ini yang saya tau tentang lagu anak-anak yang bagus ya yang dinyanyiin ama 3C, yang judulnya Putri Impian. Musik nya bagus dan masih mengusung musik anak-anak jaman dulu. Liriknya juga bagus, malah saya suka, walaupun saya udah bukan anak kecil lagi :mrgreen:. At least, mungkin dari 3C akan muncul lagi lagu anak-anak yang lain yang lebih berkualitas dan booming kayak dulu lagi. Mari kita sama-sama hidupkan kembali musik anak-anak Indonesia yang berkualitas. Yeah! Lanjutkan!! *pak SBY lagi* :mrgreen: :lol:

[PS] : Bagi yang ingin bernostalgia dengan lagu anak-anak tahun 90’an, bisa gabung di group facebook Bintang Kecil 90’an. ;)

Tulisan ini diikutsertakan dalam Kontes Blog
“Realita Musik Anak Indonesia”

yang diadakan oleh Mizan Production

sumber poto:
http://kampungindian.blogspot.com/2011/01/artist.html
http://bintangkecil90.blogspot.com/2009/03/enno-lerian.html
–  http://bintangkecil90part2.blogspot.com/2011/12/trio-kwek-kwek-rame-rame.html
–  http://bintangkecil90.blogspot.com/2009/03/mellisa.html

About these ads